Jumat, 01 Juli 2011

Sepenggal Kisah Masa Lalu


Kebumen, Januari 2007
            Sang waktu terus berjalan menapaki sebuah kisah seorang gadis kecil, Windy. Ya, itu aku. Tanpa sadar waktu terus berjalan tanpa mau berhenti sejenak mengusir rasa penat yang terus menderaku beberapa bulan ini. Ujian Nasional terus saja mengejarku, seakan dia tak mau lepas dariku. Berbagai cara sudah aku tempuh, mengikuti les di sekolah, belajar setiap hari, bahkan hari mingguku pun aku korbankan mengikuti les di bimbingan belajar. Tapi apa? Tak ada satu pun mata pelajaran yang aku pahami.
Kejenuhan semakin mendera. Aku semakin takut menghadapinya. Berbagai macam kemungkinan bisa terjadi. Seperti ketika aku gagal masuk SMP favorit di kotaku tiga tahun yang lalu. Aku takut gagal untuk kedua kalinya, gagal lulus Ujian Nasional.
            Waktu terus saja berjalan dan aku seolah tak mampu mengendalikan ketakutanku menghadapi ujian nasional. Ya, semuanya bagaikan momok yang sangat mengerikan. Sangat mengerikan. Apakah mungkin aku mampu untuk menghadapi ujian nasional beberapa bulan lagi.
            “Bagaimana persiapan ujianmu, Win?” Tanya wali kelasku, Bu Yuni, pagi itu ketika pelajaran biologi.
            Aku hanya dapat tersenyum dan mencoba menjawabnya dengan hati-hati agar ketakutanku tak terbaca oleh beliau.
            “Alhamdulillah Bu, sudah 50% menguasai materi ujian. Hanya saja…” aku tak mampu melanjutkan kata-kataku, aku ragu untuk meceritakannya pada beliau.
            “Hanya saja apa Win?” Tanya beliau.
            Aku masih ragu untuk menceritakan kegalauanku, aku takut, sungguh aku sangat takut untuk menceritakannya. Aku hanya terdiam, terpaku memandang langit biru di luar ruang kelas.
            “Hanya saja kamu takut mengahadapinya?” Tanya beliau.
            Aku tertegun, ternyata beliau bisa membaca apa yang aku rasakan.
            “Kenapa kamu harus takut, Win. Ini hanya sebuah persaingan kecil. Ibu lihat nilai-nilai kamu juga cukup memuaskan semester lalu. Meskipun bagi ibu itu belum cukup. Tapi kamu harus terus berusaha agar ujian nasionalmu bisa mendapatkan yang terbaik dan cara yang harus kamu tempuh adalah dengan bersungguh-sungguh. Kamu ingin masuk SMA Negeri 2 Kebumen kan?”
            “iya, Bu.” Jawabku singkat
            “Nah, kalau kamu ingin masuk SMA Negeri 2 Kebumen kamu harus punya keyakinan kalau kamu bisa masuk ke sana. Kamu harus mentarget hasil ujianmu sejak sekarang. Ingat, masuk SMA Negeri 2 Kebumen nilai rata-rata ujianmu minimal harus 8,00 ya. Mulai hari ini kamu harus mentarget nilai ujian nasionalmu besok harus mencapai 8,00 biar kamu bisa masuk SMA Negeri 2 Kebumen. Ibu yakin kamu bisa kok, Win. Patahkan rasa takut yang ada dalam dirimu. Buktikan bahwa kamu bisa. Jangan sampai ketakutanmu membuatmu hancur.”
            Nasehat beliau begitu mengena dalam hatiku, aku tak mau terpuruk dalam ketakutanku. Aku tak mau melihat orang-orang yang aku sayangi kecewa. Aku ingin melihat mereka semua tersenyum melihatku nanti. Aku akan buktikan bahwa aku bukan seorang gadis kecil yang lemah. Terima kasih bu Yuni atas nasehat dan semangatmu. Aku akan mencamkan itu dalam hatiku.
Kebumen, Februari 2007
            Ujian Nasional kurang dua bulan lagi. Itu berarti mental harus benar-benar siap. Matematika, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris kini mulai menjadi makanan sehari-hari. Ya, setiap hari, karena saat ini yang terpikirkan dalam otakku hanya tiga mata pelajaran itu.
Kebumen, Maret 2007
            Waktu pun terus berpacu, tak terasa satu bulan lagi ujian nasional menghadang. Persiapan sudah mulai matang. Kulihat sahabat-sahabatku di kelas sebelah sudah sangat siap menghadapi ujian dan hasil try out mereka bagus-bagus. Aku tak boleh kalah dengan mereka, setidaknya aku harus mendapatkan nilai sama dengan mereka.
            Keyakinan hati semakin mantap, kisi-kisi ujian yang diberikan para guru sudah 90% dipahami. Hanya tinggal mantapkan dengan doa dan ikhtiar.
Kebumen, April 2007
            Ujian Nasional sudah di depan mata. Bukan menghiting bulan lagi, tetapi sudah menghitung hari. Kecemasan mulai terlihat menjelang ujian datang. Hah, aku sudah pasrah, apa pun hasilnya nanti, apa pun yang terjadi, itu sudah menjadi usaha terakhirku. Hanya tinggal berdoa, berdoa, dan berdoa. Semoga Allah memberikan kemudahan.
Ujian hari pertama, Bahasa Indonesia
            Insya Allah, masih diberikan kemudahan untuk ujian hari ini. Meskipun mendapat tempat duduk yang sangat strategis, pojok belakang kiri, setidaknya dapat memberikan keleluasaan untuk memandang ke depan, melihat tingkah aneh teman-teman dalam menghadapi ujian.
Ujian hari kedua, Bahasa Inggris
            Kesehatan fisik mulai melemah,  beberapa hari belajar tanpa memperhatikan kesehatan tubuh, alhasil pagi ini mengerjakan soal ujian dengan keadaan fisik yang tidak fit.
            Waktu terus berjalan, tiga puluh menit berlalu, aku masih berkutat dengan soal-soal. Belum ada satu pun soal terjawab. Satu jam berlalu, baru bisa mengerjakan lima belas soal. Keringat dingin mulai membasahi baju, masih ada tiga puluh lima soal yang belum terjawab. Hingga akhirnya tiga puluh menit terakhir pun masih saja belum berhasil menambah satu soal pun. Pasrah, berdoa sambil mengerjakan soal-soal yang tersisa dengan mengira-ira jawaban yang sesuai hingga akhirnya keluar ruangan dengan senyum kepahitan berharap ada keajaiban.
Ujian hari ketiga, Matematika
            Ujian terakhir yang sangat dinantikan, Matematika. Keadaan fisik sudah sangat down, sakit sudah menghampiri. Mengerjakan soal-soal pun sudah tak fokus. Tetapi ada harapan untuk ujian terakhir ini. Aku tak boleh gagal di ujian ini.
Waktu yang tersisa masih cukup banyak, kucoba mengulang mengerjakan dan membetulkan yang masih salah. Hingga akhirnya aku benar-benar sudah tak mampu menatap soal-soal di depanku. Aku sudah tak kuat, ini sudah usahaku yang terakhir. Semoga hasil yang kudapat memuaskan harapku dalam hati.
Kebumen, Mei 2007
            Meskipun ujian Nasional telah berlalu, tetapi masih ada ujian sekolah dan praktek yang harus dihadapi. Masih dengan semangat awal, demi masuk SMA Negeri 2 Kebumen aku harus jadi yang terbaik. Kulalui semua ujian itu dengan senang hati, hingga akhirnya ujian pun berlalu sudah.
Kebumen, 23 Juni 2007
            Masih teringat sangat jelas waktu itu, ketegangan terlihat diwajah semua teman-teman termasuk aku. Ya, hari ini penentuan nasib kami, saatnya pengumuman ujian nasional. Ibu kepala sekolah mulai maju mengumumkan hasil ujian kami. Perasaan cemas semakin mendera setelah ibu kepala sekolah mengatakan bahwa siswa-siswinya tidak lulus 46. Perasaanku semakin tak karuan, ketakutanku semakin mejadi ketika Bu Yuni dan Pak Heri datang menghampiriku menanyakan apakah orang  tuaku sudah datang. Aku takut, hampir saja air mata menetes dari mataku, apakah aku salah satu dari 46 itu sampai-sampai aku didatangi guru-guru yang sangat berperan ini.
            Ketegangan semakin mencekam, ini saat yang ditunggu-tunggu. Ibu kepala sekolah mulai membacakan hasil pengumuman. Dua sahabatku, Arman Setyadi dan Agung Wahyudi sudah dipanggil kedepan karena mereka masuk tiga besar. Hingga akhirnya entah karena aku salah mendengar atau tidak, namaku pun turut dipanggil, aku berdiri bertiga bersama dua sahabatku didampingi orang tua kami. Ya, berdiri di depan semua teman-teman. Merubah ketakutanku menjadi senyum kebahagiaan.
            Terima kasih untuk guru-guruku, kalian berhasil meyakinkanku bahwa usaha yang sungguh-sungguh akan menghasilkan hasil yang terbaik. Sahabat-sahabatku, kalian adalah sosok yang secara tak langsung selalu mendorongku. Ayah, Ibu inilah yang kupersembahkan untuk kalian. 23 Juni 2007

        

0 komentar:

Posting Komentar